ALAMI, Gebrakan terbaru Pembiayaan UKM Syariah Secara Digital

Juni 7, 2018 By 0 Comments

Gebrakan terbaru dalam dunia finansial islam oleh PT ALAMI Teknologi Sharia (ALAMI), perusahaan teknologi finansial (tekfin) aggregator syariah pertama di Indonesia, meluncurkan platform digital yang luar biasa.

CEO dan Founder dari ALAMI Dima Djani menuliskan platform digital ini bakal menjadi katalis guna merevolusi wajah industri finansial syariah di Indonesia melewati upaya digitalisasi sejumlah hal dalam proses pembiayaan.

Platform digital tersebut diinginkan dapat menjadi wadah untuk usaha kecil dan menengah (UKM) dalam mengakses pembiayaan ke sekian banyak lembaga finansial syariah di Indonesia dengan mudah.

“Sebagai perusahaan aggregator, ALAMI mempunyai misi guna membuka akses seluas mungkin untuk para pelaku usaha guna terus bertumbuh dengan dukungan pendanaan dari lembaga finansial syariah,” kata CEO dan Founder ALAMI, Dima Djani, ketika memimpin diskusi panel “Islamic Banking 4.0: The Rise of Technology and Sharing Economy” di Jakarta, Senin (4/6).

Diskusi panel tersebut memperlihatkan nara sumber pakar perbankan syariah Dr A Riawan Amin, CEO of Karim Consulting, Adiwarman Karim; Head of Syndication & Capital Markets Emirates Islamic Bank, Romy Buchori; Head of Investor Relations and Engagement Tyrb Group, Herston Powers dan sosok milenial, Tasya Kamila.

Secara spesifik, Dima menuliskan, sektor perbankan syariah di Indonesia masih belum mempunyai teknologi mencukupi seperti perbankan konvensional yang dapat memudahkan masyarakat dalam mengakses sekian banyak layanannya.

“Kolaborasi menjadi solusi yang tepat guna dari segi ongkos dan waktu, di mana perbankan syariah dapat memanfaatkan inovasi dari perusahaan tekfin. ALAMI sebagai contoh, telah sukses menerapkan kolaborasi ini bersama sejumlah rekanan institusi finansial syariah ternama semenjak 2017,” terangnya.

Industri finansial syariah di Indonesia pada dasarnya sangat pelbagai dari segi penyedia jasa dan layanan mulai dari perbankan, asuransi, multi finance, dana pensiun hingga manajemen investasi. Secara khusus, pemerintah bahkan sudah menyiapkan peta jalan yang tertuang dalam kerangka Roadmap Pengembangan Keuangan Syariah Indonesia 2017-2019.

Sampai dengan tahun 2017, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menulis aset finansial bank syariah di Indonesia menjangkau Rp 897,1 triliun. Nilai aset ini belum tergolong saham dengan proporsi industri perbankan syariah menjangkau sebesar Rp 355,9 triliun.

Dalam diskusi yang pun turut mengundang pakar ekonomi syariah dan teknologi mulai dari Karim Consulting, Emirates Islamic, sampai Tryb Group, dapat diputuskan bahwa Indonesia memerlukan inisiatif yang lebih agresif untuk pelaku industri finansial syariah bila hendak meningkatkan daya saingnya di pasar.

Adiwarman Karim, CEO dari Karim Consulting menyampaikan bahwa guna perbankan syariah memburu ketertinggalannya dari perbankan konvensional akan lumayan memakan masa-masa dan biaya. “Salah satu penyelesaian yang sangat efektif ialah dengan memanfaatkan layanan digital yang dipunyai oleh perusahaan tekfin,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan oleh Herston Powers, Head of Investor Relations and Engagement Tryb Group.

Kolaborasi perbankan dengan tekfin pada dasarnya sudah tidak sedikit dilakukan oleh tidak sedikit negara di dunia. Secara spesifik dalam mengembangkan layanan terhadap pasar yang belum tergarap sebagai inklusi keuangan. “Ini adalahhal yang umum di negara mapan, maupun negara berkembang,” ungkapnya.

Duma menambahkan, perkembangan generasi milenial di umur produktif adalahpeluang guna mengedukasi pasar dengan teknik yang paling tak asing dengan mereka, yaitu teknologi. Saat ini kalangan Muslim milenial telah tidak sedikit memanfaatkan layanan digital guna saling bertukar informasi tentang tren dan preferensi mereka dalam memilih produk atau layanan keseharian mulai dari makanan sampai kosmetik.

“Oleh sebab itu, untuk menambah daya saing finansial syariah di Indonesia, diperlukan produk dan layanan finansial syariah yang dicocokkan dengan karakter pasar, salah satunya terhadap generasi muslim milenial,” ujarnya.

Salah satu sosok milenial, Tasya Kamila, pun turut menyerahkan pandangannya terhadap tren anak muda yang sekarang mulai mempertimbangkan bagian keagamaan dalam memungut keputusan sehari-hari.

“Muslim milenial zaman now ketika ini telah mulai peka untuk memungut keputusan yang berhubungan kehidupan keseharian mereka dari sisi agama. Misalnya saja, tingkat kesadaran mereka mengenai riba sampai label halal dalam makanan dan kosmetik. Pergeseran tren ini inginkan tidak inginkan muncul sebab mudahnya akses informasi. Dampaknya dalam industri keuangan, pelaku industri finansial kini berlomba-lomba untuk menciptakan dan menjual produk dan layanannya cocok dengan kemauan pasar,” tutur Tasya.

Tasya pun menambahkan, kesadaran bakal pembiayaan syariah pun perlu dinaikkan mengingat dalam sejumlah tahun ini terjadi penambahan tren milenial guna menjadi ‘CEO’ dari usaha yang mereka bangun sendiri.

“Menyikapi urusan di atas, maka peran tekfin syariah menjadi urgen tidak melulu untuk menyokong perbaikan kinerja industri finansial syariah secara jangka panjang, tetapi secara tidak langsung menjadi media untuk masyarakat guna lebih mengenal produk syariah dan dapat memberikan akses yang mudah melewati platform digital,” papar Tasya.

Sejalan dengan urusan tersebut, Dima menambahkan, “ALAMI sebagai perusahaan tekfin aggregator berkomitmen guna mempercepat literasi dan inklusi finansial syariah dengan teknik memberdayakan semua pengusaha yang berbobot | berbobot | berkualitas untuk mengembangkan usahanya melewati akses pembiayaan yang mudah, dengan basis syariah.”

Dima pun menegaskan bahwa ALAMI bakal tetap menyesuaikan model bisnisnya dengan koridor syariah. Sebab, bagaimanapun penerapan teknologi keuangan dalam skema syariah tetap butuh mengacu pada konsentrasi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.

“Kami bercita-cita bahwa melewati inovasi dan teknologi yang dikontribusikan, ALAMI dapat merevolusi industri finansial syariah serta menjadi katalis dalam mengembangkan ekosistem sharing economy berbasis syariah di Indonesia,” tutup Dima.